๐ธ๐๐ฟ *HIKMAH dan KEUTAMAAN PUASA TASU'A (9 Muharram) dan 'ASYURO (10 Muharram)
🌸💎🌿 *HIKMAH & KEUTAMAAN PUASA TASU'A (9 Muharram) dan 'ASYURO (10 Muharram)*
✍🏻️ Ustadz Abu Abdillah Sofyan Chalid Ruray _hafizhahullah_
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Sahabat yang Mulia Ibnu ‘Abbas _radhiyallahu ’anhuma_ berkata,
حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِع قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم
*“Ketika Rasulullah _shallallahu ’alaihi wa sallam_ berpuasa pada hari ‘Asyuro (10 Muharram) dan beliau memerintahkan untuk berpuasa padanya, maka para sahabat berkata, _“Wahai Rasulullah, sesungguhnya 'Asyuro adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani.”_ Rasulullah _shallallahu ’alaihi wa sallam_ bersabda, _“Kalau begitu tahun depan -insya Allah- kita akan berpuasa pada hari kesembilan(9) (juga).”_ Ibnu ‘Abbas berkata, belum sampai tahun depan, Rasulullah _shallallahu ’alaihi wa sallam_ wafat.”* [HR. Muslim]
💠 *Beberapa Pelajaran:*
✅ 1. Sangat ditekankan berpuasa di tanggal 10 Muharram berdasarkan hadits yang mulia ini.
✅ 2. Keutamaan puasa 'Asyuro juga dapat menghapus dosa setahun yang lalu, berdasarkan hadits Abu Qotadah _radhiyallahu ’anhu_, Rasulullah _shallallahu ’alaihi wa sallam_ bersabda,
وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاء أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
*_“Dan puasa hari ‘Asyuro (10 Muharram), aku harap kepada Allah dapat menghapuskan dosa tahun sebelumnya.”_* [HR. Muslim]
✅ 3. Juga disyari’atkan berpuasa pada tanggal 9 Muharram demi menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nasrani. Bahkan berpuasa di kebanyakan atau seluruh Muharram lebih baik lagi, berdasarkan hadits Abu Hurairah _radhiyallahu ’anhu_, Rasulullah _shallallahu ’alaihi wa sallam_ bersabda,
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَان شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
*_“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah; Muharram, dan sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah sholat malam.”_* [HR. Muslim]
Tujuan besar agama yang mulia ini *adalah agar kaum muslimin menyelisihi orang-orang kafir, maka tidak boleh melakukan tasyabbuh (menyerupai) mereka dalam ciri-ciri khusus mereka, baik dalam perkara agama maupun dunia*, sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Umar _radhiyallahu ’anhuma_, Rasulullah _shallallahu ’alaihi wa sallam_ bersabda,
*مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ*
*_“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari mereka.”_* [HR. Abu Daud, _Shahihul Jami’_: 6149]
✅ 4. Kesamaan ajaran Syi’ah dan Yahudi; orang-orang Yahudi menjadikan tanggal 10 Muharram sebagai hari raya, sebagaimana dalam hadits Abu Musa Al-‘Asy’ari _radhiyallahu ’anhu_, beliau berkata,
يَوْمُ عَاشُورَاءَ، يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ تَتَّخِذُهُ عِيدًا
_“Hari ‘Asyuro (10 Muharram) adalah hari yang dimuliakan orang-orang Yahudi, mereka menjadikannya sebagai hari raya.”_ [HR. Ibnu Abi Syaibah no. 9353]
Demikian pula *orang-orang Syi’ah, mereka menjadikan hari 'Asyuro sebagai 'Hari Raya Bersedih dan Meratap'*. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah _rahimahullah_ berkata,
وصار الشيطان بسبب قتل الحسين رضي الله عنه يحدث للناس بدعتين بدعة الحزن والنوح يوم عاشوراء
_“Dengan sebab terbunuhnya Al-Husain radhiyallahu’anhu, maka setan memunculkan dua bid’ah bagi manusia, yaitu bid’ah bersedih dan meratap pada hari ‘Asyuro (10 Muharram)”_ [Minhajus Sunnah, 2/332]
Mereka manyakiti diri-diri mereka di hari tersebut sebagai tanda berkabung atas kematian Al-Husain _radhiyallahu 'anhu_. Padahal Rasulullah _shallallahu ’alaihi wa sallam_ bersabda,
*لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُود وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ*
*_“Bukan bagian dari kami; orang yang menampar-nampar wajah, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah (ketika ditimpa musibah).”_* [HR. Al-Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud _radhiyallahu ’anhu_]
✅ 6. Perhatikanlah hadits yang mulia ini, yang menunjukkan bahwa Rasulullah _shallallahu ’alaihi wa sallam_ adalah teladan umat, beliau menetapkan syari’at sesuai perintah Allah _ta’ala_ kepada beliau, dan generasi terbaik yang sudah dijamin masuk surga, yaitu para sahabat _radhiyallahu 'anhum_ memberikan contoh bagaimana seharusnya dalam meneladani beliau, maka tidak sepatutnya kita mengada-ada (berbuat bid’ah dalam agama) tanpa ada petunjuk Rasulullah _shallallahu ’alaihi wa sallam_;
Dan jika dalam berhubungan dengan makhluk, kita seluruhnya sepakat, bahwa Rasulullah _shallallahu 'alaihi wa sallam_ adalah sebaik-baiknya teladan, mestinya dalam beribadah kepada Allah ta'ala, kita harus lebih sepakat lagi bahwa beliau adalah yang lebih pantas dijadikan teladan.
*_Sungguh sangat aneh, yang beliau ajarkan saja belum kita amalkan seluruhnya bahkan belum kita ketahui seluruhnya, tapi mengapa kita lebih memilih bid’ah-bid’ah bahkan syirik yang sama sekali tidak beliau ajarkan...?!_*
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
🌐
➖➖➖
Komentar
Posting Komentar